Oleh : Uti Konsen

JANJI memang ringan diucapkan, namun berat untuk ditunaikan. Padahal Rasulullah SAW telah banyak memberikan teladan dalam hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang musyrikin. Allah SWT berfirman, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya“ (An-Nahal : 91). “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya“ ( Al Isra 34 ).

Dalam berbagai tradisi, pengucapan sumpah diperlukan untuk menguatkan janji yang dibuat. Walaupun tanpa dengan pengucapan sumpah, sebenarnya janji itu sendiri sudah berat dan wajib dipenuhi Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah perjanjian-perjanjian….“ (Al Maidah 1).Semenjak Allah menciptakan Adam AS dan memuliakannya dihadapan para malaikat, muncullah kedengkian dan menyalala api permusuhan pada diri iblis. Terlebih lagi ketika Allah mengusirnya dari surga. Iblis berikrar akan menyesatkan manusia dengan mendatangi mereka dari berbagai arah sehingga dia mendapat teman yang banyak di neraka nanti. Berbagai cara licik dilakukan oleh iblis. Diantaranya dengan membisikkan pada hati manusia janji-janji palsu dan angan-angan kosong.
Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya, maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusak hati. Nabi SAW bersabda, “Tanda-tanda munafik ada tiga. Apabila berbicara, dusta. Apabila berjanji mengingkari. Apabila dipercaya, khianat “ (HR.Muslim).

Siapapun orangnya yang masih sehat fitrahnya tidak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. Yaitu orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka menghianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut akibat-akibatnya“ (An Anfal 55 – 56). Rasulullah SAW bersabda, “Bagi setiap penghianat (akan ditancapkan) bendera pada pantatnya di hari kiamat “ (HR.Muslim).”Tidak ada iman bagi siapa yang tidak amanah ( memenuhi janjinya ) “. Saat menapaki sejarah, kita bisa menyaksikan, para penghianat perjanjian akan berakhir dengan kemalangan. Tentunya tidak lupa dari ingatan kita tentang nasib tiga kelompok Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir dan Bani Qainuqa yang berkhianat setelah mengikat tali perjanjian dengan Rasulullah SAW yang berujung dengan kehinaan. Diantara mereka ada yang dibunuh, diusir dan ditawan.
Sikap mengingkari janji terhadap siapapun tidak dibenarkan agama Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela. Abu Daud RA meriwayatkan hadis dari sahabat Abdullah bin Amir RA. Dia berkata, “Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di tengah kami, tiba-tiba ibuku memanggilku dengan mengatakan ‘Hai, kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah SAW mengatakan kepada ibuku, ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya ?’ Ibuku menjawab, ‘Kurma‘. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan “ (AH.Abu Daud).
Didalam hadis di atas ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan oleh manusia untuk anak-anak kecil ketika menangis seperti kalimat-kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada adalah diharamkan. Terkait ini, sahabat Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kedustaan tidak dibolehkan baik serius atau main-main, dan tidak boleh salah seorang kalian menjanjikan anaknya dengan sesuatu lalu tidak menepatinya “ (Al Adabul Mufrad)

Rasulullah SAW mengatakan bahwa, “Diantara hal-hal yang langka di akhir zaman adalah dirham (uang) yang halal dan saudara (teman) yang bisa dipercaya” (HR.Ibn Asakir dari Ibnu Umar). Pada saat sekarang, kilah Didin Hafidhuddin kecenderungan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkannya merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Kawan dan sahabat yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah kawan yang memiliki sikap yang sama kepada kita, baik dalam keadaan suka maupun duka. Bila kita melakukan kebaikan, ia mendorongnya dan bila kita melakukan kesalahan ia mengoreksinya. Akan tetapi dalam realitas hidup, banyak sekali kawan yang berkhianat yang meninggalkan kita pada saat dia mendapat kedudukan dan jabatan . Segala macam janji yang pernah dilontarkannya, baik mengenai misi perjuangan, cita-cita, maupun keinginan luhur lainnya, ditinggalkan begitu saja hanya karena ingin melanggengkan kekuasaannya itu. Itulah sahabat yang berkhianat yang berdasarkan hadis diatas, kini akan banyak ditemukan. Mudah-mudahan kita semua semakin menyadari akan langkanya harta yang halal dan sahabat/teman yang bisa dipercaya sehingga kita akan semakin berhati-hati menyikapinya. Wallahualam.**