Oleh: Bambang Hudiono

PENINGKATAN kualitas pendidikan matematika merupakan hal yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berorientasi pada peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun belum ada acuan, berbagai isu mengarah pada perlunya peningkatan kualitas pendidikan matematika di Indonesia. Dari sebuah artikel (AGMI, 2008) diungkapkan bahwa: data UNESCO menunjukkan peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara; Berdasarkan penelitian (PISA 2001), Indonesia menempati peringkat 9 dari 41 negara pada katagori literatur matematika; Sedangkan informasi dari majelis guru besar (MGB) ITB pada 16 Januari 2008, menyatakan bahwa peringkat Indonesia berada di bawah Malaysia dan Singapura.

Pernyataan tersebut, menunjukkan bahwa kualitas pendidikan matematika di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Selanjutnya, rendahnya peringkat prestasi matematika Indonesia dibandingkan Malaysia dan Singapura, juga ikut menjadi pembenaran bahwa masih perlunya pembenahan diberbagai komponen yang terkait dengan pembelajaran matematika. Berdasarkan data tersebut, skor yang diperoleh Indonesia (411), jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia (508) ataupun Singapura (605). Bahkan berdasarkan data pada TIMMS (1999), skor Indonesia berada di bawah rata-rata skor Internasional (467).

Salah satu hambatan dalam peningkatkan kualitas pendidikan matematika, di antaranya adalah mitos yang telah melekat pada sebagian besar bangsa Indonesia. Matematika selama ini sering diasumsikan dengan berbagai hal yang berkonotasi negatif, dari mulai matematika sebagai ilmu yang sangat sukar, ilmu hafalan tentang rumus, berhubungan dengan kecepatan hitung, ilmu abstrak yang tidak berhubungan dengan realita, sampai pada ilmu yang membosankan, kaku, dan tidak rekreatif. Semakin lengkap pula ketika mitos-mitos ini disertai dengan sikap guru matematika yang dalam menyampaikan pelajaranya, galak, tidak menarik, bahkan cenderung menciptakan rasa takut dan tegang pada anak. Situasi semacam ini semakin menjauhkan rasa ketertarikan siswa dalam mempelajari matematika. Apa lagi jika siswa tersebut merasa dirinya memilikii kemampuan berfikir yang kurang dibandingkan teman-temannya.

Kualitas pendidikan matematika dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan persoalan yang dihadapi, di antaranya, selain kurikulum yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, adalah penerapan strategi pembelajaran yang dapat membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri yang disesuaikan dengan kebutuhan prediksi pembelajaran masa kini dan mendatang. Pembenahan yang dianggap sangat mendesak, pertama, mengubah pembelajaran dari siswa belajar pasif ke belajar aktif. Meskipun hampir semua guru menyadari bahwa dalam pembelajaran, harus melibatkan siswa secara aktif, namun pada kenyataannya sering terjadi miskonsepsi, yaitu aktif berdasarkan pisik semata. Yang seharusnya, guru merancang pembelajaran yang menantang siswa untuk lebih aktif berpartisipasi, terlibat dalam diskusi dan penjelasan ide-ide, membuat dan memecahkan masalah secara kolaborasi untuk sampai pada pemahaman materi yang dipelajari.

Kedua, mengubah pembelajaran dari pandangan transmisi menjadi pandangan koneksi. Metode mengajar tradisional, disebut sebagai pendekatan transmisi, karena menekankan pada pemberian penjelasan yang diakhiri dengan mengecek ataupun mengoreksi kesalahan-kesalahan siswa. Sedangkan pandangan koneksi menekankan koneksi berbagai ide-ide matematika. Terdapat tiga perbedaan pandangan mendasar dalam pembelajaran. Pertama, yang semula memandang matematika hanya sebagai pengetahuan dan prosedur yang harus diajarkan, menjadi suatu keterkaitan ide-ide dan proses melakukan penalaran. Kedua, belajar yang semula dipandang sebagai aktivitas individu untuk menguasai prosedur melalui penjelasan guru, menjadi aktivitas berkolaborasi untuk memperoleh pemahaman dengan usaha sendiri. Ketiga, mengajar yang semula berupa penyampaian kurikulum secara terstruktur, menjelaskan materi, dan mengoreksi kekliruan siswa, menjadi menggali pengetahuan melalui dialog, menyajikan permasalahan tanpa diawali dengan penjelasan atau contoh, dan ketidakpahaman siswa dijadikan titik awal untuk pembenaran pengetahuan yang perlu dipahami siswa.

Pembenahan selanjutnya yang dianggap mendesak adalah tersedianya guru yang profesional dalam artian mau mengembangkan diri dan luwes dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan jaman. Di masa depan, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran marupakan salah satu isu penting. Masuknya teknologi dalam pendidikan, berpengaruh pada berbagai aspek pembelajaran matematika, di antaranya: matematika seperti apa yang harus diajarkan; bagaimana matematika diajarkan dan dipelajari siswa; dan bagaimana penilaian dalam pembelajaran matematika. Seperti diungkap oleh National Center for Education Statistics (NCES, 1999), pemanfaatan komputer dalam pembelajaran matematika di kelas, meloncat tajam. Prosentasi pengguna internet di sekolah menengah atas terjadi loncatan dari 49% ditahun 1994 menjadi 94% ditahun 1998. Namun demikian penggunaan komputer oleh guru dalam pembelajaran tidak banyak mengalami peningkatan.

Dalam mengantisipasi situasi yang demikian, guru masa depan hendaknya merupakan perancang, inovator, motivator, memiliki kemampuan pribadi yang memadai dan sekaligus sebagai pengembang. Sedangkan untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dukungan pemerintah dalam bentuk pembenahan dibeberapa unsur, seperti: perekrutan guru matematika yang memenuhi standar kompetensi, melatih guru matematika yang tidak sesuai keahliannya, penyelenggaraan penyegaran untuk selalu memperbaharui pengetahuan guru, dan menerapkan penghargaan dan sangsi yang tegas kepada para guru.

Dalam pembelajaran matematika, meskipun saat ini berkembang berbagai model ataupun pendekatan pembelajaran, namun tidak menjamin dapat menciptakan pembelajaran yang efektif. Keberhasilan pembelajaran sangat bergantung bagaimana guru tersebut mengelola pembelajarannya. Namun demikian terdapat beberapa prinsip yang dapat dicoba diterapkan untuk menciptakan pembelajaran yang baik, di antaranya : dapat membangun pengetahuan siswa, mampu mengungkap dan mendiskusikan miskonsepsi yang terjadi di kalangan siswa, mampu menciptakan dan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang efektif, terbiasa dengan menciptakan lingkungan belajar dalam bentuk pemanfaatan kelompok-kelompok kecil, memiliki kesadaran untuk lebih mengutamakan proses daripada hasil akhir, memiliki kemampuan untuk mengelola pembelajaran melalui keterkaitan berbagai ide, dan memiliki kemampuan untuk memanfaatkan berbagai media seperti komputer dan internet untuk memaksimalkan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.**
*) Penulis adalah Guru Besar FKIP UNTAN

sumber:Pontianak Post